Sunday, July 29, 2012

Harijadi

Bismillahirahhmanirrahim

Allahumma solli a'la sayyidina muhammad ^_^

-this post will be in fully terengganu =)-

Allahu Allah. Alhamdulillah mareng telah genap usiaku 21 tahung. Hanya syukur hamdalah yang mampu ku ucapkan pada Yang Esa. Dengan kasih sayangNya, Dia masih lagi memberikang aku nikmat Iman, Islam, kesihatang dan banyok lagi.

Nikmat Tuhan yang mana yang ingin kau dustakan??

Timekasih pade sume yang wish dan telibat dalam acare surprise mareng, kat golf resort. Esspecially my father, i really appreciate it.

Dan beberapa gambo akan di upload sebagai kenang-kenangan ;)


brother & sister in law :)

beloved parents :)



dia wat pengunguman suruh kerat kek. malu ase hehe

yg amek gambor tu aboh :)

adik maroh sbb acik tengok bowoh mase ni hehe

aksi suap menyuap ibu tercinta :)

akak + mok

adek miaaaa!!! hehe
perasan diri tu amek gambo teh ;)

a bunch of thank to aboh and mok. mmg dok sangke. ingatkan gi bukok pose je. dok sangke ade surprise kek for me kekeke. delicious cake! :)

p/s: cume sedih terawih buat sdn bhd

Ramdhan Kareemmm. Mega Sale untuk rebut pahala. Jgn lepaskan peluang.

-pose-qiam-sahur-iftar-teraweeh- (^_^)

Wednesday, July 25, 2012

Smile, it's sunnah =)

Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma Solli 'Ala Sayyidina Muhammad (^_^)

Kawan, you cool!

I adore you (",")

Peace!

Tuesday, July 24, 2012

Tentang diri

Bismillahirahhamanirrahhim.

Kalau rasa malu nak post yang lagha2 kat facebook, aci tak?

Sedangkan diri sendiri pon tak ade lah baik sangat di dunia nyata..

T.T

Ya Allah berkatilah perjalananku dalam mencari sinarMu ini.

Allahumma Solli 'Ala Sayyidina Muhammad <3 <3

Wednesday, July 18, 2012

Kisah Rasulullah dengan Arab Badwi

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwasanya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah, beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”Rasulullah s.a.w. menirunya membaca “Ya Karim! Ya Karim!” 


Orang itu Ialu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah s.a.w. yang berada di belakangnya mengikut zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”


 Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan terlihat olehnya seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. 


Orang itu Ialu berkata: “Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalaulah bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.” 


Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah s.a.w. tersenyum, lalu bertanya: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”


 “Belum,” jawab orang itu. 


“Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?”


“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan kenabiannya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya,” kata orang Arab badwi itu pula.


Rasulullah s.a.w. pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab! Ketahuilah’.. aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!” 


Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya.


“Tuan ini Nabi Muhammad?!”


“Ya” jawab Nabi s.a.w. 


Dia segera tunduk untuk mencium kedua kaki Rasulullah s.a.w. Melihat hal itu, Rasulullah s.a.w. menarik tubuh orang Arab itu, seraya
berkata kepadanya:


“Wahal orang Arab! janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh hamba sahaya kepada tuannnya, Ketahuilah, ALLAH mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi
membawa berita.


Ketika itulah, Malaikat Jibril a.s. turun membawa berita dari langit dia berkata: “Ya Muhammad! ALLAH mengucapkan salam kepadamu dan berfirman:


 “Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih ALLAH. Ketahuilah bahwa ALLAH akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!” 


Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi.


Kemudian Rasululllah ShallallahuAlaihi wa Sallampun menyampaikan kabar dari Malaikat yang mulia Jibril Alaihissalam itu kepada arab
badwi.


Maka orang Arab itu pula berkata: “Demi keagungan serta kemuliaan ALLAH, jika ALLAH akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengan-Nya!” kata orang Arab badwi itu.


“Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan ALLAH?”

Rasulullah bertanya kepadanya.



‘Jika ALLAH akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran maghfirahnya,’ jawab
orang itu.


‘Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa keluasan pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa mulia kedermawanannya!’


Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah s.a.w. pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi Janggutnya. Karenanya Malaikat Jibril turun kembali seraya berkata:


“Ya Muhammad! ALLAH menyampaikan salam kepadamu, dan bersabda: Berhentilah engkau 


dari menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga Arasy lupa dari bacaan tasbih dan 


tahmidnya, sehingga la bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa ALLAH tidak akan 


menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. ALLAH sudah 


rnengampuni semua kesalahannya dan la akan menjadi temanmu di syurga nanti!”.


Setelah mendengar perkabaran itu Rasulullah pun mengabarkannya kepada arab badwi dan 


alangkah senangnya orang Arab badwi itu mendengar berita tersebut. Dia pun menangis 


sayu karena tidak berdaya menahan keharuan dirinya.


kredit to Khazinatul Asrar Hidayah

T.T

"Tiada yang bisa mengusir syahwat dari hati kecuali rasa takut yang menggetarkan atau rasa rindu yang menggelisahkan (kepada Allah)." 


[Imam Ibnu 'Athaillah as-Sakandari r.a.]


kredit to kak wardah ad deen

Wednesday, July 11, 2012

I Love You So

Bismillahirahhmaniraahim

Allahumma Solli A'la Muhammad (^_^)


I pray to God
My heart, soul, and body
Every single day of my life
With every breath I solemnly promise
To try to live my life for you

O Allah, You did revive my soul
And shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)

Now I know how it’s like
To have a precious love in my life
Now I know how it feels
To finally be at peace inside
I wish that everybody knew
How amazing it feels to love You
I wish that everyone could see
How Your love has set me free
Set me free and made me strong

O Allah, I’m forever grateful to You
Whatever I say could never be enough
You gave me strength to overcome my uncertainties
And stand firm against all the odds

You are the one who did revive my soul
You shone Your light into my heart
So pleasing You is now my only goal
Oh I love You so
I love You so (I love You so)


My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You
And I swear that I will never put anyone or anything before You
My love, my life, my days, my nights, my wealth, my prayers – all for You

mari sama mengambil ibrah dari lirik lagu yang sangan menyentuh jiwa sanubari ini.


p/s: kredit to Maher Zain :)


MISTAKE

Bismillahirahhmanirahhim

Allahumma solli a'la muhammad.

So what if you were making a mistake??

Dear myself,

It's okay to taste a failure

It's not wrong to make a mistake

You will not get scold for trying new things

Please do not be afraid of flying


from :
kid who afraid of everything 



Tuesday, July 3, 2012

Bab 2: Ya Aku Cuba!

sambungan klik sini 


Jam kini menunjukkan angka 11. MasyaAllah, dua jam aku hanya duduk berteleku atas tikar sejadah. Aku tak boleh terus begini. Walau apa pun yang terjadi, hidup harus diteruskan. Aku berkira-kira mahu ke klinik untuk mengetahui keadaan diriku yang sebenar. Namun aku teringat kata-kata lelaki itu yang menyuruh aku menunggunya pulang. Terbantut niatku. Tambahan, seorang isteri tidak boleh keluar dari rumah tanpa izin suami. Aku amat mengerti itu. Aku tak mahu digolongkan dalam golongan yang dikatakan Rasulullah SAW,iaitu golongan wanita yang ramai sekali masuk ke neraka.

Nauzubillahi min zalik

Jadi, aku gagahkan jua kakiku untuk melihat sekeliling rumah itu. Tiba-tiba satu nada dering hinggap di cuping telingaku. Sepertinya lagu nasyid namun, tak pernah aku dengar sebelum ini. Aku mencari-cari bunyi itu. Akhirnya pandanganku berlabuh di sebuah bag tangan berwarna coklat. Ternyata memang ia datang dari situ. Tanganku pantas menggapai  sebuah telefon bimbit. Tertera nama Eyqa di skrin telefon bimbit itu. MasyaAllah, Eyqa rupanya. Aku cepat-cepat mengangkat panggilan telefon itu.

“Assalamualaikum.” Perlahan bersama senduku yang masih bersisa.

“Waalaikumussalam. Ya Allah, Fatimah. Awak sakit ke? Kenapa tak bagitahu awal-awal? Nasib baik tadi si Ali tu call, bagitahu. Bimbang juga saya, awak tak sampai-sampai kat library. Awak sakit apa Fatimah? Morning sickness ey? Hehe” laju, ibarat kereta yang breknya tidak berfungsi, Eyqa menuturkan kata-kata.

Aku senyap. Terharu dapat mendengar suara sahabatku yang satu ini. Namun, gurauan yang terakhirnya membuat aku tersedak. Ya Allah, macam mana boleh sampai ke situ. Walaubagaimanapun apabila teringat kembali kenakalan sahabatku yang satu ini, aku kembali tersenyum.

“Eyqa, awak sihat?” tanpa sedar aku melantunkan soalan itu kepada Eyqa.

“MasyaAllah dia ni. Orang bimbang dia sakit, dia tanya orang pulak. Awak eh, awak yang tak sihat, bukan saya. Saya setakat sihat Alhamdulillah. Amboi, kita ni duk sembang macam orang yang dah lama tak jumpa. Padahal kelmarin baru je naik bas sama-sama. Haha” pecah ketawa Eyqa.

Aku hanya menurut gelak ketawa Eyqa walaupun pada hematku tidaklah kelakar mana.

“Eh, tapi seriously, are you okay? Dengar suara Ali tadi macam tak ada teruk mana. But still, I’m worried for you. Dah pergi jumpa doctor belum?” Eyqa kembali bersuara.

Aku senyap. Terasa bagai hendak saja aku meluahkan segala-galanya kepada Eyqa saat itu. Terasa seperti hendak menghemburkan segala persoalan di mindaku ini kepada Eyqa. Namun aku menahan diriku. Walau hati berkata ya, rasionalku bertegas yang sebaliknya.

“Tak ada apa-apalah Eyqa. Sorry buat awak tunggu lama kat library tu. Sekarang awak ada kat mana, still kat library ke? Dah jumpa bahan tu?” aku cuba mengawal nada suaraku.

“Jumpa. Saya ada jumpa pasal projek awak je. Sekarang ini saya duduk kafe, nak makan, lapar!”

Projek aku? Apa tajuknya pun aku sendiri tidak tahu. Jika bertanya pada Eyqa sekarang, pasti kelihatan janggal. Tidak apalah. Aku tak mahu menganggu makan tengah harinya.

“Ala, kesiannya dia lapar. Okaylah, tak nak ganggu awak makan. Hehe.” Aku berbasa-basi.

“Nasib baik faham. Haha. Okay. Okay. Esok lah kita jumpa kat library ye. Lusa kan kita dah nak balik Kuantan. Sempat kot nak cari bahan.” Eyqa menyambung.

“Ha.. ha ah. Okay. Bye, assalamualaikum.” Akhirnya aku menutup bicara.

“Waalaikumussalam.”

Sekejap aku termenung. Jumpa esok? Ada keluhan yang berbaki di hujung ngomelanku.

Entah, mungkin aku harus berbincang dengan lelaki itu soal ini, walaubagaimanapun lelaki telah bergelar suamiku.

Aku menutup fikiranku berkenaan final year project. Kini aku fokus tentang aktiviti yang ingin aku lakukan hari ini.

Aku cuba menyusun jadual aktivitiku untuk hari ini di dalam minda. Mungkin aku boleh membantu mengemas apa yang patut. Aku melihat keadaan sekeliling. Hmm. Kemas. Aku masuk ke dalam bilik air. Bersih. Kemudian aku keluar dari bilik tidur, masuk ke ruang tamu. Tiada barang bersepah atas meja. Lantai, mungkin harus disapu sedikit. Tanganku mencapai penyapu. Lima minit kemudian aku sudah selesai menyapu lantai kerana ruangan rumah itu tiadalah luas mana. Setelah berpuas hati dengan keadaan ruang tamu, aku meneruskan langkah ke dapur. Rasa kagum menyelinap di segenap hatiku. Pinggan mangkuk semua bersih, rapi di rak pinggan. Sinki tiada sisa, tiada yang tesumbat. Aku menganggkat tudung saji di atas meja makan, seperti yang ku sangka kosong tiada makanan. Melihat keadaan itu, tanpa aku sedar seukir senyuman singgah di wajahku.

‘Adakah ini hint lelaki itu untuk aku memasak?’

Hati kecilku mengomel. Aku berfikir sejenak, mencari idea untuk memasak.

Tiba-tiba aku merasa senyumanku kian kabur. Aku tidak yakin aku boleh memasak. Pada ingatanku, aku hanya pernah menolong ibuku memasak di dapur, tidak pernah aku sendiri. Bagaimana ya? Aduh aku bingung, apa lagi untuk memasak untuk lelaki itu. Terasa kekok sekali. Malu dan terasa tidak biasa.

Aku menggaru-garu kepala yang tidak gatal.

‘Tak perlu rasanya aku memasak, aku pasti dia akan makan tengah hari di kampus’

Aku seakan terdengar bisikan itu.

‘Eh, akukan seorang isteri. Memasak memang tugas aku. Tak kan tak nak jalankan jalankan tanggungjawab?’

 Bisikan lain yang membalas.

‘Mungkin dia faham kalau aku tak memasak. Kan tadi dia suruh duduk rehat saja’

Aku menggangguk-angguk kepala.

‘Tapi kalau dia kecil hati macam mana, dia suami, berdosa aku nanti’

“Ah, confuse nya,” satu keluhan akhirnya keluar dari mulutku.

"Fatimah, kau harus menepis bisikan syaitan. Dia kan suami, lakukan kewajipanmu sebagai isteri" akhirnya aku bermonolog sendiri.

Dengan langkah yang perlahan, aku berjalan ke arah peti ais dengan harapan tiada bahan yang boleh untuk dimasak. Bolehlah aku jadikan alasan untuk tidak memasak nanti.

Perlahan pintu peti ais aku buka. Aku menepuk dahi. Hmm. Ayam dalam setengah ekor, bunga kubis, lobak merah, kubis dan sayur sawi. Banyak pula sayur dia.

“Apa jenis bujang, peti penuh ni” aku mengomel sendiri.

Melihat bahan-bahan itu, aku mengambil keputusan untuk memasak. Dia nak makan atau tidak itu terpulang, yang penting aku dah lakukan tanggungjawab aku.

Tomyam ayam! Hanya itu yang dapat aku fikirkan sekarang. Namun pes tomyam tiada di rumah itu. Aku berfikir untuk keluar beli di kedai runcit terdekat. Tak dapat tidak, aku perlu memberitahu kepada lelaki itu. Aku menghantar sms menggunakan telefon bimbit tadi, aku yakin sekali ianya adalah kepunyaanku.

“Salam. Saya ni. Emm, saya nak keluar beli pes tomyam boleh? Dah tengok kat dapur, takde.”

Pendek smsku. Kemudian aku cuba mencari namanya di dalam contactku. Tiada. Aku mula resah. Masakan nombor suamiku sendiri aku tiada. Kemudian aku mula mencari dari huruf A. Aku terjumpa satu nama. 

My cute hubby

MasyaAllah, biar betul. Seakan tidak percaya dengan nama yang tertera. Aku ke yang tulis ni?
Aduh, kalau betul pon dia kiut, takkan la aku sechildish itu. Aku menggeleng kepala sendirian.

Dengan sedikit teragak-agak, aku menekan butang send.

Sejurus kemudian, “tut.. tut..”

‘One message received’

Aku menarik nafas dan menekan butang open.

“Okay sayang, kalau sesat nanti cepat2 call abang ya, luv u ;)”

Terbeliak mataku membaca mesej itu. Merona merah wajahku, tak dapat dilindung lagi.

“Hish dia ni, tak payah la reply sampai macam itu,” bebelku sendirian.

Cepat-cepat aku menekan butang back. Tak sanggup berlama-lama membaca mesej itu. Kemudian aku terus mencapai tudungku. Aku tersenyum, ternyata kini aku sudah bertudung labuh. Aku sendiri tidak sangka dengan perubahanku itu. Dulu aku hanya biasa-biasa. Alhamdulillah. Dalam diam, aku memanjatkan kesyukuran ke hadrat yang Esa kerana telah membuka pintu hatiku. Aku berazam untuk terus bertudung labuh walaupun aku lupa turning point yang telah membuat aku berani untuk berubah sedemikian.

Tengah aku bersiap-siap, satu lagi bunyi mesej kedengaran.

Setelah siap menyarungkan sarung kaki, aku membuka mesej itu.

“Salam sayang, lupa abang nak cakap. Kedai runcit dekat je dengan rumah kita, sayang jalan kaki pon takpe. Sebelah kiri, sayang jalan depan sedikit Insha Allah jumpe. And satu lagi, abang balik makan tengah hari kat rumah ye. J

Berdebar-debar jantungku ketika membaca mesej itu. Dia akan balik makan? Hatiku mula tak senang, aku masih tak yakin dapat memasak dengan baik. Ya Allah, aku hanya mampu bertawakal kepadaMu. Aku cuba yang terbaik untuk menjadi seorang insan bergelar isteri. Semoga saja aku dapat menghiburkan hati insan yang bergelar suamiku.

Aku melangkah keluar dari rumah. Ternyata memang dekat sahaja kedai runcit itu. Setelah mendapatkan pes tomyam dan sedikit lagi bahan-bahan yang lain, aku terus meluru pulang ke rumah. Sampai sahaja di rumah, aku memulakan aktiviti memasak.

“Bismillahirahmanirahim, ya Allah moga saja masakan ku ini nampak sempurna di mata insan bergelar suamiku” aku berbicara sendiri.

Bersambung...